Saatnya Hijrah Hukum Bagi Pelaku Kejahatan Seksual Pada Anak

18 Oct 2015

Tulisan ini dimuat di Harian Amanah (terbit di Makassar) edisi 17 Oktober 2015. Berdasarkan ketentuan, tulisan ini sudah menjadi milik Harian Amanah. Saya posting di sini sebagai dokumentasi saya saja. Ini naskah aslinya. Yang tampil di Harian Amanah sudah r-edit (dihilangkan satu paragraf, yaitu yang dicetak miring dan pada judulnya dihilangkan satu kata)

Bagaimana perasaan kita jika mengetahui ada data yang menyebutkan bahwa di Sulawesi Selatan, sepanjang tahun 2014 diketahui ada 41 kasus kekerasan seksual pada anak. Sementara pada tahun 2015, dalam periode Januari – April saja sudah ada 34 kasus?

 

Saya bergidik. Mengerikan sekali. Hal ini terungkap pada acara Focus Discussion Group bertema Pencegahan Kekerasan Seksual pada Anak yang terselenggara berkat kerja sama IIDN (Ibu-Ibu Doyan Nulis) Makassar dan LeMina (Lembaga Mitra Ibu dan Anak) pada tanggal 30 Agustus lalu di Jl. Ks. Tubun lr. 2. Nara sumbernya, dua orang psikolog: Titin Florentina dan Syawaliyah Gismin memaparkannya pada kami.

 

Data ini bukan untuk menjadikan kita paranoid. Bisa jadi angkanya sebesar itu karena kasus kejahatan yang terungkap semakin banyak bukannya semata karena angka kejahatan bertambah.

 

Saatnya Hijrah Bagi Pelaku Kejahatan Seksual pada AnakPsikolog Elizabeth Santosa di sebuah stasiun TV kemarin mengatakan bahwa kini saatnya semua elemen masyarakat take action. Sebarkan dan ajarkan pengetahuan untuk membekali anak-anak kita dengan pengetahuan untuk menjaga bagian-bagian pribadi tubuhnya dan untuk membela diri jika ada bahaya mengancam. Dengan demikian, kasus kejahatan seksual pada anak bisa diminimalisir karena anak yang menjadi korban umumnya tak berani melawan.

 

Selain itu, harapan terbesar ada pemerintah. Mampukah pemerintah melakukan “hijrah hukum”, meninggalkan model hukuman lama, berpindah kepada model hukum baru yang lebih berat guna memberikan efek jera?

 

Para pelaku kejahatan seksual pada anak layak mendapatkan hukuman terberat. Kalau hukum Indonesia tak mendukung hukum cambuk, rajam, ataupun qishash, bisakah mereka dihukum dengan lebih ringan, semisal dengan mengebiri libido mereka saja? Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa sudah beberapa kali melemparkan wacana ini. Bisakah kita – para ibu meminta keadilan agar pemerintah secepatnya mengadakan hijrah hukum, untuk anak-anak kita di seluruh Indonesia agar mendapatkan hak untuk hidup lebih aman dengan ancaman hukuman yang bisa membuat efek jera pada pelaku kejahatan seksual? 


TAGS Hukuman bagi pelaku kejahatan seksual pada anak Kejahatan seksual Kekerasan pada anak Kejahatan seksual pada anak Kebiri libido


-

Author

Mom Blogger | Penulis Freelance | Menyukai kompetisi menulis | Kontributor pada 4 blog pribadi dan beberapa website | Senang tantangan mengirimkan tulisan ke media cetak dan berkompetisi menulis

Search

Recent Post