Ketika Kekerasan Anak Terhadap Anak Terjadi

25 Oct 2015

Tulisan ini dimuat di rubrik Mimbar Kita Harian Amanah (terbit di Makassar), 20 Oktober 2015. Saya posting di sini sebagai dokumentasi untuk saya

Rasanya percaya tak percaya bila mendapati berita anak usia sekolah dasar bisa membunuh kawannya. Spontan teringat oleh saya film-film Amerika yang sering menampilkan adegan bully (istilah yang lazim untuk kekerasan anak kepada anak yang terjadi berulang kali), lalu sinetron-sinetron Indonesia pun demikian. Dunia nyata sekarang mirip adegan film/sinetron ataukah memang kenyataan di sekeliling kita yang dituangkan ke dalam tayangan bergambar itu?

Ada yang mengatakan bully memang sudah ada sejak dulu, media – termasuk media sosial saja yang membesar-besarkannya. Tapi sebagian orang menganggap kasus bully saat ini makin marak perkembangannya. Entahlah. Tidak begitu penting mempersoalkannya. Yang jelas, bully, baik itu terjadi berulang kali ataupun hanya sekali memang nyata adanya dan memakan korban, mulai dari anak-anak yang cedera sampai meninggal.

Yang biasanya teringat ketika mendengar tentang bully adalah hadits Rasulullah yang artinya: “Tiap-tiap anak dilahirkan dalam keadaan suci. Maka, ibu bapaknyalah yang menjadikannya (beragama) Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” Namun tentu poinnya bukanlah pada semata-mata pelimpahan kesalahan kepada orang tua anak pelaku bully.

Pada seminar Islamic Parenting yang menampilkan Dr. Asrorun Ni’am Sholeh, MA (Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia) sebagai nara sumbernya beberapa waktu lalu, dipaparkan bahwa pilar perlindungan anak ada 5: orang tua, keluarga, masyarakat, pemerintah, dan negara. Jadi, bisa saja yang salah bukan hanya orang tua dari anak pelaku kejahatan, ada kontribusi pihak lain dalam kasus kekerasan yang terjadi.

Lalu, apakah kita hanya akan saling menyalahkan? Para ahli, termasuk psikolog anak sudah menyuarakan bahwa masyarakat sudah saatnya bertindak secara nyata. Agar kita menganggap semua anak Indonesia sebagai bagian dari diri kita. Bukan saatnya lagi untuk membatin, “Biar saja anak orang lain bermasalah, anak saya kan tidak.” Contoh kecil saja, kalau ada anak tetangga yang kita lihat mengganggu temannya, bisa diperingati secara langsung. Tentunya diharapkan kebesaran hati ketika yang terjadi justru sebaliknya, anak kita yang mengganggu anak lain. Siapkah kita?


TAGS kekerasan anak


-

Author

Mom Blogger | Penulis Freelance | Menyukai kompetisi menulis | Kontributor pada 4 blog pribadi dan beberapa website | Senang tantangan mengirimkan tulisan ke media cetak dan berkompetisi menulis

Search

Recent Post