Merasa Sebagai Penderita Terhebat

7 Nov 2015

Tulisan ini dimuat di Harian Amanah, 6 November 2015. Sengaja saya tayangkan di sini, sebagai dokumentasi

Alkisah, terjadi percakapan-percakapan ini:

Ibu A: “Saya sakit kepala, Bu. Saya baru tidur jam 1 dini hari.”Ibu B: “Ibu masih mending, saya tadi jam 3 baru bisa baring itu pun tidak bisa tidur sampai subuh.”Ibu A: “Anak saya rewel, ia lagi tidek enak badan, saya harus menggendongnya terus semalaman.” Ibu B: “Itu tidak seberapa. Kalau saya, tidak bisa sama sekali!”

Ibu C: “Aduh, saya tidak bisa lama menunduk, kepala saya pasti pusing.”Ibu D: “Sama, saya juga begitu, kalau lama menunduk, kepala saya pusing.”Ibu C: “Tapi Kamu kan masih muda, saya jauh lebih tua. Saya ini tidak bisa terlalu capek, kalau sudah capek mata berkunang-kunang juga”.

Merasa Sebagai Penderita TerhebatIbu E: “Kemarin badan saya gatal-gatal. Kepala sakit, kaki juga sakit hingga sulit berjalan!” Ibu F: “Saya juga sedang tidak enak badan, badan menggigil dan ngilu.”Ibu G: “Kalian masih mending, baru-baru saja ini sakitnya, saya ini kasihan, sudah dua puluh tahun menderita, kalau sembuh hanya sebentar lalu sakit lagi.” Ibu E: “Wah Ibu, Kita kan sama-sama sakit.” Ibu G: “Ah, Kalian itu tidak seberapa, Saya yang paling menderita.”

Semoga kita bukan orang yang terlibat di percakapan-percakapan seperti itu. Allah berfirman: “ Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar” (QS. Al-Baqarah: 155).

Dalam suatu hadits, disebutkan: Dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah ra., dari Nabi SAW., ia bersabda: “Seorang muslim yang tertimpa kecelakaan, kemelaratan, kegundahan, kesedihan, kesakitan, maupun kedukacitaan, sampai yang tertusuk duri pun niscaya Allah akan mengampuni dosanya sesuai apa yang menimpanya. (HR. Bukhari dan Muslim).

Sungguh, Islam itu indah. Bahkan melalui hal-hal tak mengenakkan kita dapat beroleh berkah, dosa kita diampuni Allah. Semoga kita senantiasa menjadi orang yang tidak mengeluh, tak mengomel, sabar, ikhlas, dan tawakal.


TAGS pengeluh jangan mengeluh


-

Author

Mom Blogger | Penulis Freelance | Menyukai kompetisi menulis | Kontributor pada 4 blog pribadi dan beberapa website | Senang tantangan mengirimkan tulisan ke media cetak dan berkompetisi menulis

Search

Recent Post