Siapapun Bisa Hidup Zuhud

13 Nov 2015

Tulisan ini dimuat di Harian Amanah tanggal 11 November 2015. Saya tayangkan di sini sebagai dokumentasi

Dalam sebuah hadits riwayat Ibnu Majah, dikisahkan: Sahl bin Sa’ad berkata, seseorang datang kepada Nabi saw. dan berkata, “Ya Rasulullah, tunjukkanlah aku amal perbuatan yang apabila aku laksanakan disukai Allah dan disukai orang-orang.” Jawab Nabi, “Zuhudlah (tidak rakus dunia), niscaya dikasihi Allah. Dan zuhudlah (jangan tamak) dari hak orang, niscaya disukai manusia.” Hadits ini secata tak langsung menunjukkan bahwa siapa pun bisa hidup zuhud. Bukan hanya orang berkekurangan, melainkan juga orang yang banyak harta.

Abdurrahman bin ‘Auf adalah contoh orang berharta yang mampu hidup zuhud. Contoh kedermawanannya adalah ketika menjelang perang Tabuk, diinfakkannya 200 uqiyah emas untuk membiayai perang (setara dengan 5,95 kg emas). Umar bin Khattab berkomentar, ”Sesungguhnya aku melihat Abdurrahman adalah orang yang berdosa karena tidak meninggalkan untuk keluarganya sesuatu apapun.” Maka bertanyalah Rasulullah kepadanya, ”Wahai Abdurrahman, apa yang telah engkau tinggalkan untuk keluargamu?” Dia menjawab, ”Wahai Rasulullah, aku telah meninggalkan untuk mereka lebih banyak dan lebih baik dari yang telah aku infakkan.” ”Apa itu?” tanya Rasulullah. Abdurrahman menjawab, ”Apa yang dijanjikan oleh Allah dan RasulNya berupa rizki dan kebaikan serta pahala yang banyak.”

Siapapun Bisa hidup ZuhudMasya Allah. Sungguh, zuhud tak bisa diukur dari kondisi yang tampak. Kaya atau miskin bisa zuhud, bisa pula jadi pecinta harta dunia. Hati seseorang adalah penentunya, seberapa cenderung ia kepada harta atau kepada akhirat. Lalu bagaimana mengusahakan sikap zuhud? Baiknya kita renungkan pendapat berikut: Imam al-Ghazali menyebutkan tiga tanda zuhud, sebagai berikut: (1) Tidak bergembira dengan apa yang ada dan tidak bersedih dengan apa yang hilang. (2) Sama saja di sisinya orang yang mencela dan memujinya, terkait harta maupun kedudukan. (3) Hendaknya senantiasa bersama Allah dan hatinya lebih didominasi oleh lezatnya ketaatan, karena hati tak dapat terbebas oleh kecintaan, apakah cinta Allah atau cinta dunia sementara keduanya tak dapat bersatu.

Semoga kita termasuk orang-orang yang zuhud sebagai pecinta Allah, bukan pecinta dunia.

 


TAGS zuhud


-

Author

Mom Blogger | Penulis Freelance | Menyukai kompetisi menulis | Kontributor pada 4 blog pribadi dan beberapa website | Senang tantangan mengirimkan tulisan ke media cetak dan berkompetisi menulis

Search

Recent Post