Setiap Ibu Berhak Bahagia

24 Dec 2015

Tulisan ini dimuat di Harian Amanah, rubrik Mimbar Kita pada 22 Desember 2015. Tulisan ini versi lengkapnya.

 

Hormon oxytocin menyebabkan munculnya rasa bahagia atau cinta. Pofessor Shelley Taylor, psikolog dan peneliti dari Universitas California, Los Angeles, UCLA, menemukan kaitan hormon oxytocin dalam hubungan antara bayi dan ibunya. Ketika menyusui, dalam tubuh ibu diproduksi oxytocin dalam jumlah besar. Begitu pula, dalam tubuh bayi, diproduksi hormon tersebut. Dengan demikian, interaksi antara ibu dan bayinya menjadi lebih intensif. Ibu dan bayi yang disusuinya dengan ASI, sama-sama memperoleh perasaan bahagia, kedekatan dan kemesraan.

Setiap ibu berhak bahagia, apapun pilihannya. Entah itu dia memilih menjadi ibu rumah tangga tanpa karier di sektor publik ataupun memilih berkarier. Sayangnya, sering kali sesama ibu saling membenarkan pilihannya. Bila memberi statement untuk membenarkan pilihannya, tidak masalah. Yang menjadi masalah kemudian adalah jika satu sama lain saling menyerang, merasa diri lebih baik dengan jadi ibu rumah tangga saja atau berkarier di kantor.

Setiap Ibu Berhak Bahagia

Jadinya terlupakan kalau masing-masing orang punya alasan atas pilihannya masing-masing dan akan mempertanggung jawabkan pilihannya ke hadapan Allah SWT kelak. Kita sama sekali tak berhak menghakimi. Allah berfirman dalam Q.S. Al Hujuraat: 11, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”

Allah SWT melarang kita untuk menghina sesama dengan cara meremehkan dan mengolok-olok. Sebagaimana yang termaktub pula dalam hadits shahih dari Rasulullah SAW: “Takabur adalah menentang kebenaran dan meremehkan (merendahkan) manusia.” (HR Muslim).

Biasanya perempuan yang punya masalah saling bercerita untuk mengadukan masalahnya kepada sesamanya perempuan karena perempuan mengerti, sesamanya sedang membutuhkan “pendengaran”. Perempuan berbeda dengan lelaki yang lebih suka berdiam diri dalam menghadapi masalahnya. Nah, seharusnya sesama kita bisa saling menguatkan dan mendukung, sebagai sesama “tiang negara” dan sebagai “madrasah pertama” bagi anak-anak bangsa ini, untuk Indonesia yang lebih baik. Selamat Hari Ibu.

 

 


TAGS perempuan Hari Ibu ibu rumah tangga wanita karier


-

Author

Mom Blogger | Penulis Freelance | Menyukai kompetisi menulis | Kontributor pada 4 blog pribadi dan beberapa website | Senang tantangan mengirimkan tulisan ke media cetak dan berkompetisi menulis

Search

Recent Post