Ajari (Kami) Melihat Permasalahan dari Berbagai Sisi

11 Feb 2016

Tulisan ini dimuat di rubrik Mimbar Kita Harian Amanah, 9 Februari 2016. Saya tayangkan di sini sebagai dokumentasi.

Pada sebuah acara dakwah di televisi, seorang perempuan mengadukan suami yang berbuat aniaya terhadap dirinya kepada seorang ustadzah. Namun jawaban sang ustadzah bagaikan petir, “Itu berarti ibu telah salah pilih suami! Seharusnya ibu tidak memilihnya sebagai suami!” Astaghfirullah. Apakah situasi bisa dikembalikan saat perempuan itu belum menikah lalu memutuskan tak memilih lelaki yang sekarang jadi suaminya?

Pada acara televisi berbeda, dengan ustadzah yang lain seorang ibu bertanya, “Ada ibu-ibu yang tak mau gabung dengan pengajian kami di kompleks. Mereka bikin pengajian sendiri. Bagaimana itu?” Dengan telunjuk teracung, ustadzah menjawab, “Itu berarti mereka sombong! Tidak mau bergabung dengan majelis yang ada!” Sang ustadzah seterusnya menyalahkan pihak “lawan”. Yang bertanya tersenyum-senyum mendapatkan pembelaan.

Saya terpana. Mengapa bisa vonis secepat itu dijatuhkan? Ada banyak alasan mengapa seseorang tidak mau bergabung dengan kelompok pengajian di sekitarnya. Salah satunya adalah tidak nyaman. Banyak pula alasan mengapa seseorang bisa merasa tak nyaman.

Bisa jadi karena guru di kelompok pengajian itu tak memiliki kemampuan melihat masalah dari berbagai sisi atau terlalu suka menyalahkan pihak di luar lingkarannya. Atau karena tak nyaman dengan baju-baju seragam yang “harus” dipunyai anggota pengajian. Tak semua orang suka dan mampu berpakaian seragam. Lagi pula apa sebenarnya esensi pakaian seragam pada sebuah pengajian memang benar-benar sesuai dengan ajaran Islam? Ustadzah itu tak sadar, jawabannya bisa dijadikan pembenaran oleh sang penanya. Padahal informasi dari satu sisi saja sangat subyektif. Pertanyaan dan penjelasan dari sang penanya yang hanya sekira 2 menit terlalu dangkal sementara masalah sebenarnya tak sesempit itu.

Tulisan ini bukan hendak menggurui. Hanya ungkapan rasa sedih dan himbauan. Kejadian seperti di atas bukan hanya sekali-dua kali terjadi. Wahai para ulama, ajari kami cara meninjausecara proporsional dari banyak sisi dalam bingkai Islam. Jangan mengajari kami melihat hanya dari sisi yang masih diliputi subyektifitas. Solusi tak selalu sederhana karena kehidupan ini rumit. Kalau orang yang kepadanya kami harus menggugu tak memiliki kemampuan itu, kepada siapa lagi kami berguru?


TAGS perspektif ustadz ustadzah ulama


-

Author

Mom Blogger | Penulis Freelance | Menyukai kompetisi menulis | Kontributor pada 4 blog pribadi dan beberapa website | Senang tantangan mengirimkan tulisan ke media cetak dan berkompetisi menulis

Search

Recent Post