Pelantikan Kepala Sekolah dilakukan di Tempat Sampah Raksasa

30 Mar 2016

Anti mainstream. Tadi pagi saya membaca berita yang diturunkan media online Makassar Terkini dot Com mengenai pelantikan  435 kepala sekolah tingkat SMA/SMK semakassar yang dilakukan di TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Antang alias tempat sampah raksasa di kota ini.

Menurut yang dilansir Makassar Terkini dot Com, Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Antang, Kecamatan Manggala, Sakka Saleh, berharap pelantikan ratusan kepala sekolah di TPA memberi perubahan besar terhadap pandangan warga tentang sampah. Menurut Sakka, kepala sekolah yang sudah dilantik harus bisa memberikan pengetahuan kepada anak didiknya, bahwa sampah yang dibuang ternyata harus diolah lagi di TPA. Tidak seperti selama ini, masih banyak warga yang beranggapan, setelah sampah dibuang selesai persoalan. “Tidak begitu,” katanya.

 

Di sinilah ratusan kepsek SMA/SMA semakassar dilantik. Sumber gambar: www.makassarterkini.com

 

Semoga para kepsek ini kemudian menekankan pentingnya menjaga kebersihan di lingkungannya. Benar-benar mengawasinya. Kalau perlu menindaki langsung mereka yang membuang sampah tidak pada tempatnya.

Kalau perlu semua kepala kantor dan lembaga semakassar dilantik di TPA. Supaya mereka mengawasi para bawahannya untuk tidak lagi buang sampah sembarangan. Supaya tidak ada lagi masyarakat kota ini yang rantasa’ (kotor, berantakan – bahasa Makassar), buang sampah seenaknya. Kalau bisa sekalian juga mengorganisir bagaimana pengelolaan sampah yang baik dan membawanya ke bank sampah.

Hampir tiap pagi, pemilik-pemilik warung di dekat rumah saya menyapu sekitar warung mereka akibat sampah berserakan yang dibuang warga yang berbelanja. Kalau saya jadi pemilik warung, saya larang orang buang sampah seenaknya dekat warung saya.

Beberapa hari yang lalu, saat melewati salah satu warung itu, seorang nenek yang tengah menyuapi cucunya sembari duduk di depan warung membuang sampah lurus ke depannya. Sampahnya nyaris mengenai wajah suami saya.

Setelah itu, saya ke pasar Pa’baeng-Baeng. Di depan pasar, seseorang membuang-buangi langsat busuk dari bak belakang sebuah mobil pick up ke jalan.

Jangan dikira perilaku buang sampah sembarangan hanya ada di kalangan masyarakat menengah ke bawah. Ada juga orang bermobil bagus seenaknya buang tisu atau puntung rokok di jalanan. Jangan dikira hanya “warga” pasar tradisional yang buang sampah sembarangan, “warga” mal pun ada yang melakukannya.

Kapan Makassar benar-benar tidak rantasa’ kalau masih ada orang-orang rantasa’ di dalamnya?

Makassar, 30 Maret 2016


TAGS sampah


-

Author

Mom Blogger | Penulis Freelance | Menyukai kompetisi menulis | Kontributor pada 4 blog pribadi dan beberapa website | Senang tantangan mengirimkan tulisan ke media cetak dan berkompetisi menulis

Search

Recent Post