• 22

    Dec

    Eat Lunch at Pepper Lunch

    Waktu acara Ranch Adventure beberapa waktu lalu, pihak Nestle sebagai pengundang memberikan voucher makan di Pepper Lunch di Mal Ratu Indah, Makassar. Batas waktunya hingga 31 Desember. Sayang kan kalau tidak dipergunakan. Maka pada tanggal 14 Desember kemarin, saya membawa Athifah dan Afyad ke sana. Rencananya sih mau bungkus, bawa pulang, dan makan di rumah. Namun katanya tidak boleh. Pemegang voucher harus makan di tempat. “Bagaimana, dong, saya cuma bawa dua anak kecil,” kata saya pada pegawai di balik meja kasir. “Ibu makan saja dulu di sini apa yang bisa dimakan, nanti sisanya kami bungkus,” sang pegawai memberi solusi. Ah iya, ya. Begitu saja. Maka jadilah saya dan kedua bocah itu duduk manis di meja nomor 7. Dekorasi dan penerangan di Black Pepper Lunc
    Read More
  • 25

    Jun

    Berbuka dengan yang Sederhana

    Seperti pada umumnya keluarga muslim, saya dan suami juga mengajarkan anak-anak untuk berpuasa sedini mungkin, sebisa mereka. Alhamdulillah, Affiq (14 tahun) dan Athifah (8,5 tahun) sekarang sudah terbiasa berpuasa di bulan Ramadhan sehari penuh. Si bungu Afyad (5,5 tahun) belum belajar berpuasa karena ia berbeda dengan kakak-kakaknya. Bungsuku ini anak spesial, ia lebih terlambat memahami segala sesuatunya dibandingkan anak-anak seusianya.   Setiap Ramadhan, satu-satunya yang wajib ada di rumah kami adalah teh manis hangat. Minim teh manis hangat adalah kebiasaan yang diturunkan orang tua saya sejak saya kecil dulu. Kebetulan pula saya, suami, dan ketiga anak kami alergi dengan hawa dingin. Kami tidak meminum minuman dingin, begitu pun saat puasa Ramadhan, tak ada es dalam kamus mak
    Read More
  • 23

    Jun

    Petasan Salah Waktu

    Ramadhan 1436 H ini, ada yang berbeda di kota saya. Sehari sebelum Ramadhan, suara petasan terdengar di mana-mana dari rumah kami. Walaupun tak suka dengan suara keras yang sangat mengganggu ini, namun saya berusaha memaklumi jika suara petasan hanya terdengar pada malam pergantian tahun masehi. Apa boleh buat, begini ini hidup di tengah-tengah masyarakat majemuk. Tapi kali ini berbeda. Petasan seolah menjadi barang murah meriah. Banyak sekali orang membuang-buang uangnya untuk barang ini. Sudah benar-benar mengganggu. Bunyinya bukan hanya sehari sebelum Ramadhan di kota ini. Hari pertama, kedua, dan ketiga Ramadhan bunyi petasan terdengar nyaris di setiap saat. Di pagi hari, siang hari, sore hari, menjelang buka puasa, menjelang shalat tarawih, usai shalat tarawih, menjelang sahur, dan m
    Read More
  • 17

    Jan

    Promo Kok Melarang?

    Cara orang promo ada-ada saja. Baca di notifikasi Twitter ada yang mention promo ini: Hai kak,@Mugniar,Mengejar TOEFL Score diatas 550? Jangan baca ini http://on.fb.me/V5bOSY Langsung saja dalam hati saya jawab, “Baiklah, Saya tidak akan membukanya.” Jadi ingat beberapa tahun silam ketika seseorang hendak menukar uang kecil, dia bertanya kepada saya, “Tidak adakah uang kecil ta’?” Tanpa pikir panjang, saya langsung menjawab, “Tidak ada.” Akan berbeda reaksi saya kalau pertanyaannya model, “Ada uang kecil ta’?” Nah, kalau ditanya seperti itu, saya akan lebih leluasa mengingat-ingat dan mencari-cari uang kecil di dalam tas saya. Ketimbang ditanya dengan kalimat yang didahului kata “tidak”. Kalau kata “tidakR
    Read More
  • 11

    Jan

    Berlangganan Gratis Tabloid Halo Jepang!

    Setelah mendapat informasi dari blog Mbak Ani Berta tentang berlangganan Tabloid Halo secara gratis (baca di sini), saya pun mencoba mengirimkan e-mail ke redaksi Tabloid Halo. Tunggu punya tunggu, tabloid gratis itu tak datang-datang jua sementara kawan-kawan yang juga mengirim e-mail sudah menerima tabloidnya. Ya sudahlah, kalau memang saya tak mendapatkannya, saya menganggapnya bukan rezeki saya. Namun ketika saya sudah melupakan tentang tabloid ini, pada bulan Desember lalu, satu eksemplar Tabloid Halo terbitan bulan November 2014 atas nama saya tiba di rumah, dibawa oleh kurir sebuah perusahaan ekspedisi. Aih, ternyata masih rezeki saya. Walaupun tabloid yang datang sudah lewat masanya sebulan dari waktu terbitnya, saya senang-senang saja. Gratis ini. Dapat banyak pengetahuan baru gr
    Read More
  • 13

    Dec

    Perkedel Kangkung Tumis

    Saya tidak boleh heran kalau anak-anak tidak suka sayur karena saya pun dulu demikian. Saya membiasakandiri makan sayur nanti setelah menikah (bukan kebiasaan yang baik ya, jangan ditiru) karena baru menyadari manfaat sayur-mayur bagi tubuh. Setelah saya mencoba bereksperimen dengan perkedel cap cay dan perkedel sup untuk menarik minat anak-anak, kemarin saya bereksperimen dengan perkedel kangkung tumis. Sebenarnya kangkung tumisnya sendiri sudah enak rasanya tapi mau coba bereksperimen, membuatnya jadi perkedel. Rasanya bagaimana ya? Siapa tahu ketiga anak saya suka. Soalnya baru Affiq yang mau makan kangkung tumis, adik-adiknya belum. Si kangkung tumis Adonan perkedel Kangkung Tumis Adonannya digoreng. Tapi … astagah saya lupa foto perkedel masaknya wkwkwk Nyaaam, ternyata
    Read More
  • 8

    Dec

    Perkedel Cap Cay

    Perkedel Cap Cay? Yup, perkedel cap cay! Ini memang bukan jenis makanan yang umum. Dari namanya saja aneh. Cap cay ya cap cay, sejenis sayuran. Bagaimana pula perkedel cap cay itu? Perkedel cap cay itu asalnya dari cap cay juga. Jadi sayuran yang karena kurang diminati, kemudian isinya diambil sebagian kemudian diadon dengan tepung terigu. Adonan itu diberi bumbu bawang putih dan garam yang sudah dihaluskan. Adonannya dicampur. Perkirakan saja ukuran terigunya. Kalau kira-kira sudah bisa dibentuk bulatan-bulatan dan digoreng, berarti sudah siap untuk dimasak. Perkedel Cap Cay Cap Cay Perkedel Sup Waktu masih jadi sayuran, cap cay tidak dimakan oleh anak-anak. Membuat mereka makan sayuran biasanya harus setengah dipaksa atau sekalian dipaksa. Eh tapi katanya itu bukan cara yang bagus
    Read More
  • 5

    Dec

    Keajaiban yang Dialami Buku Ini, Akankah Berlaku Pada Penulisnya?

    (Didedikasikan untuk sobat penulis buku Berbagai Keajaiban dalam Hidup, diterbitkan oleh Quanta Elex Media Komputindo, 2014) Seharusnya buku Berbagai Keajaiban dalam Hidup ini sudah tiba di tangan saya pada tanggal 28 atau 29 November kemarin. Tapi ternyata si buku ditakdirkan untuk menempuh perjalanan berliku hingga tiba di tangan saya tadi. Dua hari yang lalu saya mengejarnya ke alamat yang diberikan dari kantor ekspedisi Jakarta. Karena berkali-kali telepon saya tak diangkat-angkat (sampai saya berpikir ini perusahaan niat bisnis atau tidak sih) akhirnya saya ke kantornya. Dekat, cuma kira-kira 500 meter dari rumah. Sampai sana dihadang dengan pengumuman bahwa yang ingin mengambil barang diminta untuk ke alamat yang lain. Perusahaan yang aneh. Orang kan bayar mahal supaya barangnya
    Read More
  • 5

    Dec

    Jangan Bangga Berlebihan pada Anak

    Saya pernah berlaku norak waktu masih dikaruniai si sulung Affiq. Merasa bangga dengan perkembangannya. Seolah saya yang membuatnya demikian atau seolah Affiq seorang diri yang berhasil. Padahal ada campur tangan Allah di dalamnya. Saya kemudian mengubah kebanggaan saya menjadi rasa syukur dan menekannya agar tak terlalu terlihat ketika melihat kawan-kawan yang juga baru memiliki satu anak begitu bangga pada anaknya. Setiap saat dipuja-pujinya buah hatinya seperti dia yang paling keren di antara anak-anak kecil seumurannya. Dan menyaksikannya demikian ternyata membuat perasaan tidak enak, Alah, anak saya juga keren kaliii. Anak saya juga cerdas, bukan cuma anakmu seorang! Begitulah. Maka saya memandang diri saya menyebalkan ketika ikut-ikutan membanggakan anak saya di hadapan orang lain.
    Read More
  • 4

    Dec

    Cara Berhemat Asyik di Masa Sulit

    Secara tak sengaja, kami menemukan cara untuk berhemat. Awalnya karena waktu untuk ke Lelong nama pasar ikan besar di Makassar baru tersedia di siang hari, saya dan suami pun berboncengan ke sana. Masih banyak penjual ikan di sana. Saya berkeliling mencari ikan kakap. Setelah hampir menempuh tiga ratus enam puluh derajat dari titik bergerak, saya menemukan penjual ikan kakap yang sreg di hati. Sebanyak sepuluh ekor ikan kakap merah dan kakap putih berukuran sedang dan agak kecil diberikannya kepada saya dengan sukarela seharga lima puluh ribu rupiah! Ternyata ikan-ikan itu merupakan kelompok ikan terakhir yang dijualnya. Sejumlah keuntungan sudah dikantongi penjual ikan tersebut. Seorang pembeli yang mendapatkan sepuluh sekor ikan kakap seharga lima puluh ribu rupiah tidaklah membuatny
    Read More
- Next

Author

Mom Blogger | Penulis Freelance | Menyukai kompetisi menulis | Kontributor pada 4 blog pribadi dan beberapa website | Senang tantangan mengirimkan tulisan ke media cetak dan berkompetisi menulis

Search

Recent Post