• 13

    Dec

    Setelah Proses "Tarik-Ulur" yang Menegangkan

    Pengalaman hamil dan melahirkan anak pertama tidak akan terlupakan karena 3 alasan. Karena saya dan suami awalnya bukan pasangan subur, karena merupakan pengalaman pertama dalam memasuki babak kehidupan baru: menjadi ibu, dan karena saat itu kami berada di perantauan. Saya mempersiapkan mental dengan banyak belajar. Belajar dari pasangan-pasangan muda di sekitar kami yang kebanyakan perantau, juga belajar dari media cetak dan internet. Rumah sakit perusahaan pun memfasilitasi pembekalan bagi para calon ibu baru mulai dari pengetahuan mempersiapkan ASI selama kehamilan, senam hamil, memandikan bayi, hingga menyusui. Ketika itu saya merasakan dampak buruk dari banyaknya pengetahuan baru yang saya serap: stres. Rasanya over loaded! Terbayangkan terus betapa sulitnya tanggung jawab mengasuh a
    Read More
  • 10

    Dec

    Patta Giling dan Bank Sampah Pelita Harapan

    Pak Patta Giling kemudian menceritakan banyak hal tentang bank sampah. Untuk lebih lengkapnya, teman-teman bisa membaca tiga tulisan saya yang terdahulu, di blog ini: Perjalanan Mencari Bank Sampah, Pendar-Pendar Cahaya dari Balik Sampah, dan Sosok Inspiratif di Antara Sampah . Tulisan ini merupakan tulisan keempat tentang Bank Sampah Pelita Harapan di Makassar. Tetapi masing-masing tulisan bisa dinikmati secara terpisah. Pak Patta Giling mengajak saya dan suami melihat-lihat gudang sampah. Berdindingkan seng bercat hijau, bangunan sederhana itu menampung aset bank sampah. Tak mendapatkan orang yang menyimpan kunci gudang, kami hanya berdiri sambil ngobrol di depan bank sampah. Di bawah pintu terlihat sampah plastik bekas kemasan minuman. Pak Patta Giling adalah ketua RW IV, Kelurahan
    Read More
  • 3

    Dec

    Selamat Jalan Perempuan Berwajah Teduh

    2 November 2014, pukul 8 pagi. Hujan air mata membasahi wajah saya. Saya memandangi wajah teduhnya. Mengusap kepalanya. Mengecup dahinya yang telah mendingin. Perempuan 85 tahun yang saya panggil Mama Siah ini telah pergi untuk selamanya dini hari tadi. Mengenalnya sejak saya bisa mengingat, telah menumbuhkan rasa sayang di dalam hati saya padahal kami tak tinggal satu kota. Mama Siah tinggal di kota Watansoppeng, 180 kilo meter di sebelah utara Makassar, hanya sesekali saja ke Makassar mengunjungi tiga orang anaknya yang tinggal di sini. Tak dinyana, ajal menjemputnya di kota ini, di rumah anak sulungnya. Mama Siah adalah kakak ketiga dari ayah saya. Ayah saya anak ke-8 dari 10 bersaudara. Seperti Nenek dan Ayah, Mama Siah dan saudara-saudaranya yang lain tipikal orang-orang penyabar.
    Read More
-

Author

Mom Blogger | Penulis Freelance | Menyukai kompetisi menulis | Kontributor pada 4 blog pribadi dan beberapa website | Senang tantangan mengirimkan tulisan ke media cetak dan berkompetisi menulis

Search

Recent Post